Our Blog

Manusia dan penderitaan

Table of Contents

Manusia dan penderitaan

Manusia dan penderitaan

Manusia dan penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa Sansekerta dhra artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat berbentuk lahir atau batin, keduanya termasuk penderitaan ialah keluh kesah, kesengsaraan, kelaparan, kekenyangan, kepanasan, dan lain-lain.

Al Qur’an maupun kitab suci agama lain banyak menguraikan penderitaan manusia sebagai peringatan bagi manusia.

Akan datang hari mulut dikunci, kata tak ada lagi. Akan tiba masa tak ada suara
dari mulut kita. Berkata tangan kita tentang apa yang dilakukannya. Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya. Begitu bai-bait pertama lirik lagu ”Ketika Tangan dan Kaki Berkata” Chrisye yang ditulis oleh Taufiq Ismail dan diilhami dari Surat Yasin ayat 65. Pesan utamanya bahwa kita tidak aka bisa berbohong diakhirat nanti. Mungkin mulut mengaku menyayangi tetapi tangan akan berkata mencekik dan kaki berkata menyepak dan menendang. Mulut tak lagi dipercaya.

Kita mungkin kurang jelas menerangkan apa yang kita derita kepada dokter. Demam, mual, kepala pusing, cekot-cekot. Sekitar itu-itu saja istilah yang kita ketahui. Tetapi tidak mengapa. Dokter akan mengukur suhu badan, kadar trombosit, leukosit dan lain-lainnya untuk mengetahui apa sakit kita sebenarnya. Dia lebih percaya pada angka dari pada kata-kata. Dia mengukur suhu badan dan kadar zat-zat dalam darah atau urine menggunakan cara-cara ilmiah yang terpercaya. Sedangkan informasi demam dan mual bersumber dari cerita si pasien yang subyektif dan personal. Zaman memang berpihak kepada yang ilmiah, terukur dan objektif ketimbang kata-kata yang tidak kwantitif serta tidak akurat. Sekarang semua sudah ada ukurannya: gempa bumi, kadar karbon dioksida dalam udara, bahkan rating acara televisi. Semuanya dalam angka.

Pengalaman memang hanya bisa diceritakan dan tidak bisa diukur. Pengalaman ”Orang Jawa Naik Haji” yang diceritakan oleh sastrawan Danarto dengan dengan enak membuat para haji Jawa jang membacanya merasa telah dicuri isi hatinya dan dibeberkan pengalaman pribadinya. Danarto tidak megukurnya, tetapi dia menceritakan pengalamannya. Mengukur adalah wilayah para ilmuwan sedang bercerita adalah urusan para strawan. Karya sastra yang membakar semangat dan melembutkan hati tidak kalah pentingnya dengan karya ilmiah yang menaikkan hasil pertanian atau memudahkan komunikasi antar manusia.

Para ahli mengatakan bahwa apa yang kita alami waktu kita menderita demam atau pusing kepala sebenarnya adalah reaksi kimia yang kompleks yang terjadi didalam otak kita. Dengan kata lain, kejadian yang benar-benar nyata adalah reaksi kimia dalam otak kita. Kata Harun Yahya, ilmuwan muslim yang terkenal itu, kalau saja otak saya dapat disambung paralel dengan otak anda, maka mulut anda juga akan menjerit-jerit karena merasa kesakita meskipun kaki saya yang kejatuhan martil. Semuanya hanya terjadi didalam otak saja. Entahlah. Tetapi banyak orang pandai mengatakan bahwa dunia ini hanyalah bayangan belaka. Wallohu a’lam.

Baca Juga :